Dosa Ekonomi

June 1st, 2008 by hadi-pion

Saya mulai dari
pengakuan. Confession of an economic
hitman
adalah judul buku yang ditulis oeh John Perkins. Ia adalah Salah
satu pion kecil dalam korporasi besar yang bersama pemerintah AS, bank, lembaga
multinasional, perusahaan tambang dan konstruksi berkelindan membentuk corporatocracy.

Corporatocracy digerakkan oleh konsep
yang diterima sebagai doktrin bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi
umat manusia. Makin besar pertumbuhan makin luas manfaatnya. Konsekuensinya,
mereka yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi sepantasnya diagungkan dan
ketamakan layak diberi tepuk tangan.

Corporatocracy berusaha mendorong para
pemimpin dunia agar menjadi bagian dari jaringan luas yang mengutamakan
kepentingan komersial Amerika Serikat. Pada akhirnya para pemimpin itu akan terjerat dalam belitan
utang yang akan memastikan loyalitas mereka. Corporatocracy dengan senang
hati memberikan pinjaman hutang dalam jumlah besar ke suatu negara untuk
pembangunan infrastruktur seperti; pembangkit tenaga listrik, bendungan, jalan,
bandar udara dan kawasan industri. Perkins dan para EHM lainya, melalui
ekonometri, dengan statistik yang dimanipulasi berusaha membuat proyeksi
pertumbuhan ekonomi (pasca pembangunan infrastruktur) selama beberapa tahun
kedepan. Para EHM akan membujuk segelintir “orang-orang brengsek” disuatu negara
untuk mendukung konsep ekonomi mereka. Pemberian hutang akan disesuaikan dengan
anggaran pembangunan infrastruktur yang nilainya tentu sudah digembungkan
hingga mencapai titik yang tidak mungkin dikembalikan oleh negara penerima
bantuan. Apabila suatu negara mengalami gagal bayar, seperti mafia, corporatocracy akan menuntut banyak hal
mencakup; hak pilih di PBB, instalasi pangkalan militer  dan terutama akses kepada sumber daya alam.
Bila para EHM gagal , maka diatasnya ada sekawanan serigala (istilah dari Perkins)
yang akan menggulingkan pemimpin suatu negara yang tidak bisa diajak “kerjasama”,
seperti yang terjadi di Panama dan Ekuador. Bila serigala gagal, akan ada
pengiriman tentara dalam jumlah besar seperti yang terjadi di Iraq.

Perkins pun
berkunjung ke Indonesia. Segelintir anak bangsa memasukkan Indonesia ke dalam jerat corporatocracy. Korupsi dan lembeknya
pemerintahan, seperti yang disampaikan Amien Rais , menyebabkan pihak asing
dengan mudah memegang tengkuk Indonesia.
Seperti kucing yang dipegang tengkuknya, taring dan cakarnya tidak memiliki
arti. Orde baru yang disokong ekonom mafia
Berkeley
berdosa karena melakukan kejahatan (sin
of crime of commission
) dengan menjual negara kepada pihak asing. Dari
sanalah kontrak penambangan yang tidak masuk akal dimulai. Pemerintahan SBY
berdosa karena membiarkan kejahatan ekonomi tetap terjadi (sin of crime of ommision) dan
sekaligus melakukan kejahatan baru dengan menyetujui kontrak penambangan yang di
luar nalar. Tidak ada keberanian melakukan renegoisasi untuk mendapatkan
pembagian hasil yang lebih adil. Tidak ada ketegasan untuk menuntut
transparansi berapa besaran jumlah produksi dan cost recovery yang dibutuhkan. Dan dosa bertambah karena  dengan  alasan
tidak mampu, pemerintah menjual murah blok Cepu dan Natuna pada Exxon. Yang lebih gila, untuk ekploitasi
gas di blok D-Alpha Natuna negara hanya mendapat pemasukan dari pajak. Dengan
utang mencapai $148 miliar, dengan sumber daya alam yang dikuasai pihak asing,
dengan lembeknya pemerintahan, kedaulatan dan kemandirian ekonomi macam apa
yang bisa diharapkan?

Kebijakan untuk
menaikkan BBM adalah bukti bahwa Indonesia tidak memiliki kedaulatan
ekonomi. Menaikkan BBM dan pemberian BLT adalah semacam post hypnotic suggestion yang diberikan oleh Bank Dunia, dan kita
tak berdaya menghadapinya. Seperti orang yang dihipnotis lalu diperintah untuk
membuka baju, ia menjadikan cuaca panas sebagai alasan pembenaran untuk menyangkal bahwa yang dilakukanya adalah
karena sebuah perintah. Alasan untuk menyelamatkan APBN, bahwa subsidi lebih
banyak dinikmati oleh kalangan menengah atas dan karena itu distribusinya harus dibuat lebih
adil lewat BLT, adalah bentuk  rasionalisasi untuk menutupi kenyataan bahwa
kita terikat financial agreement
dengan lembaga mulltinasional. Adalah romantic
nonsenses
karena pemerintah  juga
memberikan puluhan trilyun untuk menutupi hutang orang-orang kaya. Adalah alasan
yang tidak akan cukup untuk menghentikan demonstrasi mahasiswa. Adalah alasan
yang tidak memadai untuk membungkam orang-orang macam Kwik Kian Gie, Rizal Ramli,
Amien Rais, Ichsanudin Noorsy untuk mengkritik kebijakan ekonomi Sri Mulyani  dan anak ideologis mafia Berkeley lainya.

Kebijakan
ekonomi yang lebih didasari intervensi asing ketimbang pemikiran yang matang
dan perencanaan yang baik justru membawa dampak yang lebih buruk bagi
masyarakat. Naiknya BBM otomatis diikuti naiknya barang kebutuhan pokok.
Masyarakat terhimpit dalam kehidupan ekonomi yang kian sulit. Warga miskin baru
bertambah dengan skala yang tidak kecil. BLT ( bantuan langsung telas) hanya
menjadi belatung yang menggerogoti tidak hanya harga diri orang miskin tapi
juga ekonomi secara keseluruhan. BLT adalah suap politik untuk menarik simpati
dari mereka yang tak berdaya.

Indonesia hari ini, membutuhkan pemimpin yang  tegas seperti Mahathir Muhammad, Hugo Chaves
atau Morales. Pemimpin yang berani berkata “tidak” terhadap segala intervensi
asing.  Pemimpin yang tidak tinggal diam
terhadap segala bentuk kezaliman. Pemimpin yang baik.

Aloerotisme

September 20th, 2007 by hadi-pion

Yasmin menulis surat pada Saman. Ia mengaku bahwa pada saat bercinta dengan Lukas, suaminya, ia sering memasukkan Saman kedalam benaknya. Ayu Utami, penulis novel Saman, menyebutnya dengan aloerotisme. Erotisme pada “yang lain”. Meski bukan zina dalam pengertian konvensional, aloerotisme tidak bisa dibenarkan secara moral. Lagipula, superego sebagai aparatus moral dalam struktur kepribadian (psikoanalisis) tidak membedakan antara pikiran dan tindakan. Ia akan menghukum ego karena menggunakan energi psikis untuk memproduksi pikiran buruk meski pikiran itu tidak dinyatakan dalam perbuatan.

Tanpa disadari mayoritas dari kita adalah praktisi aloerotisme. Parahnya, yang jadi korban adalah tuhan. Mereka yang beribadah diruang sempit disudut rumah, mereka yang mendatangi rumah tuhan untuk mendekatkan diri padaNya, bercinta dan bermesraan denganNya malah memasukkan apa “yang lain” dari tuhan ke dalam benaknya. Saat kita mengaku bahwa hidup kita, mati kita hanya untuk tuhan, yang ada dikepala kita justru urusan pekerjaan, kuliah, keluarga, pertandingan sepakbola, atau pecel lele. Tuhan kita perlakukan seperti cuaca buruk yang harus dihadapi dengan mantel tebal yang ditenun dengan kemunafikan. Pada titik ini, sebenarnya kita lebih busuk dari iblis. Setidaknya iblis jujur bahwa dirinya adalah pembangkang, sedang kita menghadap sang khalik dengan kedustaan. Lalu yang terjadi adalah tidak adanya korelasi positif antara tingkat ibadah dengan perilaku moral kita. Sederhananya, ibadah kita tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Gordon W. Alport, seorang tokoh trait psychology merumuskan dua macam orientasi keberagamaan. Keberagamaan intrinsik, berusaha hidup berdasarkan agama dan keberagamaan ektrinsik, yaitu menggunakan agama untuk tujuan yang lain. Yang pertama tentu saja mereka yang sudah sesuai dengan selera para nabi. Yang kedua adalah mereka yang tidak bisa memberikan makna pada ritus-ritus agama yang dikerjakan. Mereka yang tidak bisa merendahkan hati dan diri dihadapan “realitas puncak”. Mereka yang menjadikan kunjungan ketempat ibadah sebagai strategi impression management untuk kepentingan duniawi. Pendeknya, mereka para praktisi aloerotisme.

Satu kalimat dari lirik lagu Church on Sunday yang dinyanyikan oleh Greenday adalah satu bentuk dari keberagamaan ektrinsik. “ If I promise to go to church on Sunday, will you go with me on Friday night”. Bagi yang muslim “ If I promise to go to mosque on Friday ( jum’atan) will you go with me on Sunday night… and it’s compromise”. Kita bisa menambah daftarnya dari pejabat departemen agama yang korupsi hingga maling sandal di masjid. Malliiiiiiiing!!!!!!

Lalu, apakah kita harus meninggalkan semua ritus-ritus keagamaan tersebut? Ya, kata Sigmund Freud. Agama adalah ilusi dan ritus-ritusnya adalah bentuk dari obsessional neurosis yang ditandai dengan gejala kompulsif. Yaitu perbuatan dan pikiran yang karena paksaan tak sadar harus kita lakukan diluar kemauan dan terjadi berulang-ulang. Jadi, sholat lima kali sehari, misa tiap minggu, pada prinsipnya tidak beda dengan bayi yang berulangkali memasukkan ibu jari ke dalam mulutnya atau sama dengan Mr. Udel dalam film As good as it gets, yang berulangkali mencuci tanganya karena terobsesi dengan kebersihan. Agama dan segenap ritusnya, menurut Freud, telah gagal dalam membentuk moral.

Tidak, kata Buya Hamka. Seseorang bertanya pada beliau kenapa banyak orang yang sholat tapi tetap mengerjakan maksiat? Beliau hanya berkata “sekiranya mereka meninggalkan sholat, maksiatnya akan jauh lebih parah”(redaksinya tidak persis sama, kira-kira maknanya seperti itu)

Belakangan ini ramai diperbincangkan dan diadakan pelatihan sholat khusyu. Saya tidak tahu bagaimana prosedurnya, tapi pelatihan sholat khusyu dan beragam rekayasa spiritual (spiritual engineering) lainya selalu memunculkan kekhawatiran bahwa ia hanya akan jadi mode yang memacu gairah keagamaan sesaat lalu redup dan hilang tak berbekas.  Dan tentu saja ia akan jadi komoditi yang laku dijual, tak ubahnya HP atau permen. Kapitalis religius(???) akan sumringah karenanya.

Bagamana keluar dari masalah ini? Saya tidak tahu, karena saya masih terjebak dalam problem yang sama. Yang saya tahu, Allah adalah zat yang maha rahman dan rahim dan kita diperintahkan untuk bertaqwa semampu kita. Sekiranya anda sudah bisa keluar dari kondisi seperti itu, syukurlah. Sekiranya anda tidak berkenan dengan kata”kita”, anggap saja itu proyeksi dari aku. Karenanya, maaf.

Puasa Untuk Dewasa

September 20th, 2007 by hadi-pion

Satu abad yang lalu Sigmund Freud membangun satu mazhab besar dalam psikologi. Ia menyebutnya Psikoanalisa. Satu bagian penting dari bangunan teorinya adalah determinisme psikis. Bahwa kehidupan awal seorang manusia (lima tahun pertama) akan menentukan kehidupan psikisnya dikemudian hari. Ia membagi masa awal kehidupan manusia ke dalam tiga tahap; fase oral, fase anal dan fase phalic. Fase oral adalah fase dimana bayi senang memasukkan apa saja kedalam mulutnya. Diawali dengan menyusu, dilanjutkan dengan memasukkan benda yang bisa dijangkaunya atau ibu jarinya sendiri. Dua macam aktivitas oral, yakni menelan dan menggigit, merupakan prorotipe bagi banyak ciri karakter dikemudian hari. Fiksasi atau hambatan pada fase ini akan menyebabkan seseorang menjadi perokok, peminum, agresif secara verbal, mudah dipengaruhi, serta senang memakan apa saja dan “siapa saja”. Fase anal adalah masa ketika anak senang berlama-lama ditoilet, melihat serta memainkan kotoranya sendiri. Toilet training dari orang tua akan berpengaruh besar terhadap kepribadian anak. Fiksasi pada fase ini menyebabkan seseorang menjadi kikir, mudah marah dan senang melihat tumpukan harta. Menurut Freud, kesenangan melihat tumpukan kekayaan merupakan sublimasi dari kenikmatan melihat kotoran. Fase phalic ditandai dengan kegemaran anak memainkan kelaminnya sendiri dan menunjukanya pada orang tua mereka. Fase ini berakhir saat anak berusia lima tahun. Pada umumnya, fiksasi atau hambatan pada setiap fase merupakan keadaan yang relatif. Jarang seseorang mengalami fiksasi sepenuhnya.

Menurut Kang Jalal, dengan menengok psikoanalisa (jika teori itu benar) kita bisa melihat keterkaitan antara puasa dan kehidupan psikis kita. Puasa menuntun kita menjadi pribadi yang dewasa. Puasa mengajak kita menjauh dari dunia anak-anak. Puasa menghendaki kita agar meningggalkan fase oral, fase anal dan fase phalic. Dengan puasa kita diajar untuk menahan diri dari makan dan minum, kita dididik untuk tidak rakus, tidak berbicara kotor dan menyakiti orang lain dengan ungkapan verbal.

Salah satu pesan moral ibadah puasa adalah agar kita lebih memperhatikan fakir miskin. Lapar dan dahaga yang kita rasakan adalah upaya untuk memasuki dunia mereka. Merasakan apa yang mereka rasa, mengalami apa yang mereka alami. Puasa mengajari kita untuk berempati. Satu hal yang oleh M.J. Bennet diartikan sebagai “ imaginative intellectual and emotional participation in another person’s experience. Konsekuensi dari empati adalah kita dituntut untuk mengulurkan tangan kepada mereka sebagaimana kita akan mengharap kebaikan orang lain saat kita merasa “tidak mampu”. Inilah simpati. Dengan empati kita ikut merasakan duka, dengan simpati kita berbagi suka. Dalam fiqh puasa, jika seseorang tidak bisa berpuasa, baik karena sudah tua atau hamil dia harus membayar fidyah(tebusan) dengan cara memberi makan kepada fakir miskin. Ini menegaskan bahwa puasa tidak hanya menuntut kesalehan individu tapi juga kesalehan sosial. Sekiranya puasa bisa membuat kita berempati dan bersimpati kepada mereka yang papa berarti kita sudah meninggalkan fase anal.

Terakhir, puasa mengajak kita untuk menjauh dari fase phalic. Selama puasa kita diperintahkan untuk mengekang hawa nafsu. Kita diajak untuk mengalihkan perhatian dari zakar menuju zikir. Dari senggama menuju agama. Kalau biasanya senggama sedikit dibicarakan dan banyak diamalkan sedang agama banyak dibicarkan dan sedikit diamalkan, dibulan puasa seharusnya kita banyak membicarakan sekaligus mengamalkan agama. Menyelami dimensi intelektual sekaligus dimensi ritualnya. 

Al-quran menggunakan kata  la’allakum tattaqun bagi mereka yang berpuasa. Menjadi orang yang bertaqwa karena berpuasa adalah satu harapan, satu kemungkinan. Kata la’alla dalam bahasa arab berfungsi sebagai tarajji, yaitu mengharapkan sesuatu yang baik, yang mungkin berhasil (mungkin tidak). Demikian pula dengan menjadi dewasa, ia adalah satu harapan yang mungkin. Bagaimana mewujudkanya tergantung diri kita masing-masing. Tergantung pada bagaimana cara kita berpuasa.

Semoga dibulan yang suci ini, allah mencurahkan rahmat dan berkahnya pada kita semua, menjadikan kita hamba yang bertaqwa dan pribadi yang dewasa.

Anti Feminis(me)

February 1st, 2007 by hadi-pion

Women: an infinity of cosmetics

Women: long hair and short brains

The only time a woman has a true orgasm is when she’s shopping. Every other time she’s faking it. It’s common courtesy

A beautiful woman is paradise for the eyes  and purgatory for the purse.

No woman ever found a rich man ugly

Saya menemukan kalimat itu di sebuah situs anti feminis. Menggelikan, karenanya aku tertawa. Di situ humor dijadikan alat untuk menteror. Dengan label wit for wisdom sebentuk misoginy merayap melalui kata-kata. Sebagian besar isinya merupakan spekulasi sinting tentang kodrat wanita, sebagian nyata seperti terlihat mata, sebagian merupakan ekstrimisasi fakta.

Kokohnya sistem patriarkhi memaksa perempuan menjadi subordinat, makhluk yang remeh, sehingga pelecehan, penghinaan dan tindak dehumanisasi yang lain sedikit banyak bersifat sah. Satu teori yang mendasari munculnya sistrem patriarkhi adalah menstrual taboo. Perempuan harus diperlakukan khusus saat datang bulan. Hal ini berangkat dari kepercayaan bahwa menstruasi bukan semata peristiwa biologis tapi juga teologis. Tidak hanya terkait dengan jasmani tapi juga mengandung muatan spiritual dan magis. Agama kristen dan Yahudi percaya bahwa menstruasi adalah akibat dari kesalahan Hawa/Eva yang menggoda Adam untuk menikmati buah terlarang. Dalam kitab Talmud (eruvin 100b) disebutkan bahwa  perempuan harus menanggung sepuluh beban akibat dari pelanggaran Eva di surga. Dua diantaranya: perempuan akan mengalami menstruasi dan perempuan akan merasa malu atau risih terhadap tubuhnya sendiri. Hampir semua suku di belahan bumi meyakini bahwa menstruasi adalah divine creation(kutukan), karena kutukan, tentunya ada efek negatif yang ditimbulkan. Oleh karena itu perlu adanya penangkal yang dikenal dengan menstrual creation. Beberapa diantaranya adalah:

  • Kosmetik

Kosmetik berasal dari bahasa Yunani cosmeticos yang berarti perilaku keteraturan bumi/keserasian alam. Kosmetik sebagai alat kecantikan adalah perlengkapan yang diletakkan pada tubuh perempuan untuk memelihara keutuhan/keserasian alam, untuk menangkal evil spirits yang datang bersamaan dengan keluarnya darah menstruasi. Lipstick, pemerah pipi, cat merah dikening adalah signal warning, sebagai petanda bahwa perempuan sedang mengalami menstruasi, juga diyakini bisa memberi tuah. Eyeshadow dan make up disekitar mata adalah usaha untuk mengatasi the evil eyes, karena menstruant‘s gaze dianggap mempunyai kemampuan menimbulkan bencana, menyebabkan makanan menjadi busuk, bayi menjadi sakit, menggagalkan panen dsb. Anting(tindik) yang terbuat dari bahan tertentu harus dipasang di organ tubuh yang berlubang seperti telinga, mulut, hidung  juga vagina untuk mencegah masuknya roh jahat kedalam tubuh. Sisir juga bentuk dari menstrual creation. Kata sisir( comb) sangat dekat dengan rahim(womb). Dalam bahasa yunani kata comb juga berarti vulva. (Viva la vulva!!!)

  • Slop, sandal dan sepatu.

Kaki menstruant diyakini bisa menimbulkan polusi dan gagalnya panen. Karena itu menstruant diharuskan memakai slop, sandal atau sepatu ditambah dengan gelang kaki. Sepatu yang dikenakan terbuat dari besi dengan ukuran yang lebih kecil serta runcing dibagian depan, hingga menstruant tidak bisa bergerak bebas. Tradisi inilah yang menyebabkan hampir semua model sandal/sepatu yang dikenakan perempuan modern runcing/lancip di bagian depanya. Dalam kacamata freudian hal ini adalah salah satu manifestasi dari penis envy (berangkat  dari oedipus complex pada wanita saat  fase phalic, yaitu fase ketiga dalam perkembangan psikoseksual anak,antara usia3-5 tahun) yang dialami setiap wanita. Dalam komunikasi nonverbal, bila perempuan tertarik terhadap laki-laki secara tidak sadar ia akan menggerakan maju mundur /menjuntai kakinya dalam sandal /sepatu( dangles toe on shoe) sebagai bentuk dari hasrat sexual yang disamarkan.

  • Pondok haidh, kerudung dan cadar.

Upaya lain untuk mengatasi evil spirits adalah dengan mengasingkan menstruant disebuah gubug yang jauh dari perkampungan, yang dikenal dengan menstrual hut. Bagi perempuan bangsawan pengasingan ini bisa diganti dengan memakai cadar/kerudung, sebagai upaya substitusi untuk mengurangi tatapan mata dari the evil eye. Pizza Hut, dengan genteng warna merah serta menu yang didominasi warna darah merupakan prasasti yang dipahat oleh kapitalis untuk mengenang tradisi itu. Sarana untuk membangkitakan ketidaksadaran kolektif perempuan serta sarana untuk bernostalgia dengan sejarah.

Kosmetik dan aksesoris lain untuk mempercantik diri pada awalnya hanya dikenakan oleh menstruant. Namun seiring waktu kosmetik menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh perempuan. Tanpa kosmetik, sejatinya ia bukan perempuan. Salahkah orang yang berseru bahwa woman, an infinity of cosmetics?

Kapitalisme dengan segenap elemennya berusaha memaksakan definisi cantik, lengkap dengan mitos-mitosnya. Melalui iklan; harapan, impian, imaji, fantasi serta kekhawatiran perempuan dieksploitasi sedemikian rupa. Kosmetik, seperti diungkapkan oleh Baudrillard adalah obyek yang diorganisir oleh tatanan produksi, adalah tanda yang dimanipulasi, karenanya menjerumuskan. Bukankah para shopaholic dan wanita yang mengalami orgasme ketika berada di mall lebih banyak digerakkan oleh libidinal economy ketimbang akal sehat? Didorong want ketimbang need?Salahkah bila ada yang mengatakan woman, long hair and short brain?

Tidak sedikit wanita yang menghamburkan rupiah dengan nominal yang wah untuk belanja kosmetik dan tetek bengeknya, dengan harapan setelah memaikanya dan menatap cermin  mereka akan melihat bayangan dirinya secantik “luna maya” atau “surtikanti” dalam cerita wayang. Perempuan dan cermin memiliki keterkaitan yang erat. Tidak heran jika dalam bahasa arab kata perempuan(mar’ah) sangat dekat dengan cermin ( mir’ah). Dalam bahasa inggris kata mirror seakar dengan kata miracle (to wonder at), tempat dimana perempuan bisa mengagumi diri, sebagai kompensasi dari inferioritas karena merasa risih dengan tubuhnya sendiri. Dengan perbandingan yang lurus antara cantik dan rupiah, ditambah kesenangan bertandang ke pizza hut dari pada mampir ke angkringan salahkah bila ada yang berteriak A beautiful woman is paradise for the eyes and purgatory for the purse?

Terakhir, salahkah bila ada yang berkata No woman ever found a rich man ugly? Alam(dangduter) mungkin ketinggalan zaman ketika harus mencari pelet pada mbah dukun untuk menarik hati wanita. Kesadaran beragama menyebabkan orang takut pergi ke dukun. Dengan rupiah yang cukup, banyak lelaki lebih memilih pelet yang diimpor dari Jepang dan eropa. Dengan mahar yang lebih tinggi mereka bisa mendapatkan pelet yang ampuh dengan label; vios, honda jazz, BMW atau jaguar. Bukankah dengan barang- barang itu seorang pria akan tampak tampan? terlihat keren? Bukankah wanita juga menikmatinya?

Saya tidak menulis untuk memberi jawaban, saya sedang mempertanyakan. Saya tidak menulis kebencian, saya lahir dari seorang perempuan. Sekiranya saya menjawab semua pertanyaan diatas mungkin akan terjebak pada apa yang dalam logika dikenal dengan fallacy of dramatic instance( over generalisasi), atau terperangkap pada apa yang oleh Eric hoffer disebut sebagai antropologi model bis turis, yaitu  semacam kecenderungan untuk menilai kelompok yang berbeda dengan kita (jenis kelamin, usia, suku, agama) berdasarkan anggota yang paling tak bermutu. Seperti yang disampaikan oleh Gordon W. Allport, sense of humour  adalah salah satu ciri kepribadian dewasa, dalam artian adanya kemampuan untuk keluar dari diri sendiri (transendensi???), melihat dirinya seobyektif mungkin, lalu menertawakanya.  Mungkin karena itu. Mungkin.

Catatan tambahan:

·        Lebih detail tentang menstrual taboo, silahkan baca tulisan prof Nasarudin Umar  (Universitas Paramadina) “ Menstrual taboo dalam kajian kultural dan islam” dalam buku “Islam dan Konstruksi Seksualitas”.

·        The only time a woman has a true orgasm is when she’s shopping. Every other time she’s faking it. It’s common courtesy”. Faking orgasm pada wanita, bagi saya, adalah tindakan bodoh yang mungkin berangkat dari ketulusan untuk membuat pria merasa nyaman. Bukan begitu dr Boyke?? Hahahahaha. Daredam…daredam…

Cover Both Sides

February 1st, 2007 by hadi-pion

Pernahkah anda memusuhi, membenci atau dibenci dan dimusuhi seseorang karena informasi yang salah? Karena distorsi informasi? Karena anda dikutip secara tidak proporsional, ada kalimat yang tanggal hingga mengubah maksud keseluruhan? Karena konteks pembicaraan dihilangkan hingga teks menjadi liar dan disalah artikan? Karena salah dengar? Atau murni karena fitnah?

Bagaimana memperlakukan sumber berita dan informasi yang dibawanya  adalah satu pertanyaan penting, tidak hanya dalam dunia jurnalisme tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Klarifikasi, cek dan ricek atau tabayyun menjadi tak bisa dielakkan. Hanya orang yang tak punya nalar kritis yang menerima apa saja yang didengarnya. Dalam perspektif psikoanalisa orang yang seperti itu mengalami fiksasi (hambatan kepribadian) fase oral, yaitu fase pertama dalam perkembangan psikoseksual anak yang ditandai dengan kegemaran untuk memasukkan apa saja kedalam mulutnya (ibu jari, handuk, mainan, pasir). Kegemaran yang diilhami oleh pengalaman pertama saat menetek pada puting susu ibunya. Saat dewasa, fiksasi ini mengakibatkan pribadi yang bersangkutan menerima apa saja omongan orang lain. Mudah dipengaruhi dan mudah dimanipulasi.

Untuk mengantisipasinya, dua hal penting yang patut diperhatikan adalah fakta dan logika. Bagaimana keadaan sebenarnya  dan bagaimana pikiran kita bertindak kritis terhadapnya. Hakim yang baik tidak akan membuat keputusan hanya dengan mendengar tuntutan jaksa. Ia juga harus mempertimbangkan pembelaan terdakwa dan logika yang bermain dibaliknya. Wartawan yang baik tidak hanya mengorek informasi dari satu sumber, ia harus berusaha meng cover semua pihak yang terlibat dalam suatu masalah. Tanpa adanya fakta dan logika yang jelas, apa yang kita tulis, apa yang kita putuskan bisa membawa efek negatif bagi pihak lain. Sebaliknya, bisa jadi kita yang dirugikan karena adanya informasi yang tidak berlandaskan fakta yang benar dan logika yang lurus.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah cerita berkenaan dengan imam Asy Syafi’i. Imam Asy syafi’i r.a. datang ke negeri Yaman dan diangkat sebagai pejabat di sana. Karena kepandaian, kecerdasan, kecakapan, keadilan dan kejujuranya beliau sangat disayangi oleh penduduk disana. Hal ini menyebabkan beberapa orang dengki dan benci kepadanya. Beliau difitnah telah bersekongkol dengan kelompok bani Alawy (keturunan imam Ali r.a.) untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah.  Mendengar laporan itu, khalifah Harun Ar Rasyid memerintahkan agar imam Asy Syafi’i dan sembilan orang lainya dibawa ke Baghdad. Mereka diseret dengan kaki dan tangan dirantai. Sesampainya di Baghdad, kesembilan orang tersebut dibawa kehadapan khalifah untuk diperiksa dan diadili. Semuanya dieksekusi mati, hingga tiba giliran imam Asy Syafi’i. Dengan tenang beliau mengucap salam kepada khalifah “Assalamu ‘alaika wa barokatuh”. Beliau tidak menyebut kata “rahmat”. Harun Ar Rasyid menjawab salam dengan sempurna  dan berkata “Engkau memulai ucapan salam dengan sunah yang tidak diperintahkan, sedangkan aku membalas ucapanmu dengan faridhah(kewajiban)”. Lalu imam Asy Syafi’I berkata ”Tuan telah mendatangkan keamanan kepada saya ketika saya berada dalam ketakutan sehingga tuan menjawab ucapan salam saya dengan Wa’alaikasalaam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan demikian Tuan telah menyampaikan rahmat Allah dengan kemurahan Tuan kepada saya”.

Khalifah Harun Ar Rasyid berkata “ Sekarang apa yang hendak engkau katakan untuk menolak tuduhan atas dirimu? Bukankah engkau bersalah? Bukankah engkau mengepalai komplotan pemberontakan kepada kami atas nama sahabatmu, Abdullah bin Hasan (seorang Syi’ah)? Imam Asy Syafii menjawab, “ Sekarang Tuan telah membayangkan apa yang terlintas di hati Tuan. Oleh karena itu, saya akan menyatakan apa yang ada dalam benak dan hati saya untuk mencari keadilan dan keinsafan”. Beliau melanjutkan, “Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

Hai orang orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik yang membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kamu tidak membenci/menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu. ( Q.S. Al Hujurat (49): 6 )

Amat jauh tuduhan itu dari saya. Dustalah orang yang membawa berita kepada Tuan. Sesungguhnya  saya mempunyai dua kewajiban kepada Tuan, yaitu menjaga kehormatan islam dan tanggung jawab kekeluargaan. Cukuplah kedua perkataan ini menjadi jalan dan perantara Tuan untuk mengambil keputusan yang benar. Tuanlah yang lebih berhak memegang etika tuntunan kitab Allah karena Tuan putra paman Rasulullah SAW. Yang sangat membela agamanya dan mempertahankan pendirianya sepanjang petunjuk allah”.

Mendengar perkataan itu, tampak kegembiraan di wajah Harun Ar Rasyid dan imam Asy Syafi’i pun dibebaskan.

My Mecca

February 1st, 2007 by hadi-pion

Kau Mekahku

Kau Ka’bahku

Aku peziarahmu

Aku hajimu

Hari ini aku berkunjung

Meletuskan rindu yang menggunung

Menangkap setiap senyum yang kau lempar

Menghirup aroma segar yang kau tebar

Di satu sudutmu aku merapat

Memarkir hasrat

Melantunkan satu ayat

Perihal  cinta yang makin lebat

Melafadzkan sepotong firman

Tentang sebuah kesetiaan

Mendendangkan selarik sabda

Serangkai nada dalam dada

Aku akan berthowaf

Mengitari setiap detail indahmu

Aku akan ber sa’i

Menjelajahi setiap mili anggunmu

Lalu ku bersujud mencium tanah

Mencumbu bayangmu yang tengadah

Memeluk sukmamu yang rebah

Kau adalah tempat suci bagi jiwaku.

Kaliwaru, saat genap 25 tahun.

Kolom Tuhan

December 25th, 2006 by hadi-pion

Semalam malaikat berbisik

Kata-katanya mencekik

Tuhan sedang menulis tajuk rencana

Tentang sebuah bencana

Sambil bersila di ruang redaksi

Di atas Arsy

Malaikat masih berbisik

Kata-katanya makin mencekik

Besok naik cetak

Lalu ribuan manusia tergeletak

Berhenti berdetak

Mengenang horor itu…dua tahun yang lalu.

Tuhan…ampuni mereka, ampuni aku, ampuni orang-orang yang punya tempat di hatiku, ampuni semua hambamu.

Origami

December 14th, 2006 by hadi-pion

Untuk istri aa…

Origami berasal dari kata Jepang oru: melipat dan kami: kertas. Secara sederhana origami adalah seni melipat keras. Asal mula origami masih menjadi perdebatan. Beberapa sejarawan mengatakan origami muncul dari Cina, tidak lama setelah Tsai lun menemukan kertas. Sejarawan yang lain mengklaim origami berasal dari Jepang. Terlepas darimana origami berasal, seni melipat kertas tersebut memang berkembang pesat di Jepang. Origami dan kertas memiliki nilai yang tinggi bagi masyarakat jepang. Bahkan beberapa model origami telah menjadi bagian dari ritus keagamaan. Origami, setidaknya bagi sebagian masyarakat jepang adalah ibadah, karenanya tidak hanya ditujukan untuk menyenangkan diri sendiri tapi juga untuk menyenangkan tuhan. Pada awal abad ke-8 bangsa arab mulai memproduksi kertas. Arab yang memiliki tradisi kuat dalam matematika menjadikan kertas dan origami sebagai media untuk mengembangkan geometri. Bersamaan dengan invasi arab ke Spanyol, praktek origami juga meluas hingga negeri matador. Tradisi melipat kertas di Spanyol populer denan istilah papiroflexia. Saat ini praktek origami telah memyebar di seluruh penjuru dunia. Lintas suku, lintas agama. Orang yang paling berpengaruh bagi perkembangan origami modern adalah Akira Yozhisawa. Pada tahun 1950an ia mempublikasikan buku yang berisi ilustrasi bagaimana cara membuat model non tradisional temuanya sendiri. Ia jga membuat simbol diagram origami yang memberikan petunjuk bagaimana untuk sampai pada suatu pola atau model tertentu. Semacam kitab fiqh origami. Hampir semua buku origami merujuk pada karyanya.

Origami adalah seni yang murah dan mudah. Murah karena materi yang dibutuhkan hanya selembar keras. Hampir semua jenis kertas bisa digunakan. Hanya saja jangan gunakan surat nikah untuk praktek origami. Terlalu berisiko dan suami anda pasti akan marah besar. Mudah, karena anda hanya butuh belajar beberapa tipe lipatan standar. Dalam origami ada empat bentuk dasar yang cukup populer. Sama seperti jumlah maksimal istri yang bisa di p******i. Keempat bentuk dasar itu adalah kite base, the fish base, the bird base, the frog base. Dari bentuk dasar tersebut bisa dikembangkan menjadi bentuk yang lebih kompleks. Untuk detailnya anda bisa membeli buku fiqih origami yang banyak tersedia dipasaran.

Satu hal yang penting dalam melipat keras adalah simetri. Simetri berasal dari kata Yunani symmetria: “agreement in dimension” atau dari symetros "having a common measure” atau dari syn- "together" + metron “meter” yang berarti "harmonic arrangement of parts". Dalam origami perlu adanya keserasian dalam lipatan, perlu adanya harmoni, seperti dalam filsafat yin yang. Perlakuan pada satu sisi membawa konsekuensi perlakuan yang sama bagi sisi yang lain. Ujung bertemu ujung. Ada jarak yang sama dari dua sisi menuju pusat, hingga hasil akhirnya akan terlihat sebagai struktur yang menawan, memikat bagi siapa saja yang melihat. Ini adalah moralitas origami. Anda bisa menunjukan hasil praktek origami pada suami untuk menjelaskan apa itu adil. Bagaimana memperlakukan istri dengan simetri.

Origami adalah praktek yang menyenangkan untuk siapa saja. Anda, para ustadz dan ustadah, tukang becak, mahasiswa, dosen, pengusaha kertas, anggota DPR, penyanyi dangdut akan terhibur dengan origami. Origami juga tidak merugikan pihak lain. Pasangan anda tidak akan pingsan mendengar kabar bahwa anda berorigami. Justru ia akan mendukunganya dengan ikhlas. Origami juga bisa menjadi media untuk memupuk kebersamaan. Anda bisa duduk bersama dengan suami, anak-anak dan “saudara kembar” anda, saling membantu, atau berkompetisi untuk menghasilkan produk origami yang terbaik. Origami, karenanya berbeda dengan judi, dimana orang- orangnya duduk bersama tanpa ada kebersamaan, duduk dalam satu meja tapi hatinya cakar - cakaran.

Origami bukanlah praktek yang kontroversial. Saya kira tidak akan ada orang - orang yang menggunakan Al-qur’an atau hadist untuk mendukung atau menentang praktek origami. Tidak akan ada undang-undang yang terbit untuk memperketat syarat-syarat berorigami. Tidak akan ada expose yang berlebihan dari media terhadap orang yang berorigami. Hidup anda akan tetap normal dan nyaman dengan berorigami. Anda bisa bangga dengan label istri yang berorigami. Kalau mau ,anda bisa mengkoordinir pecinta origami dalam skala nasisional lalu membentuk masyarakat origami indonesia. Anda punya peluang besar untuk jadi presidennya.

Terakhir, origami sangat baik dari tinjauan psikologi. Ia bisa menjadi sarana mengekspresikan diri, sarana aktualisasi diri. Menurut maslow, itu adalah kebutuhan puncak dari makhluk yang bernama manusia. Origami akan membawa anda menuju orgasme psikis, menuju kebahagiaan hidup.

an Origami tale

with P******y details.

NB: Untuk aa…( Ahmad Albar…jangan Ge Er yaaaa)

I wish there was a way to undo what you have done…

Pernyataan anda bahwa ini semua untuk mengkoreksi paradigma yang salah tentang p******i, untuk mendudukkan posisi p******i pada tempatnya, sama sekali tidak membuat saya terharu. Begitu pula dengan pernyataan istri anda bahwa "apa yang tampaknya menyakitkan belum tentu seburuk yang terlihat", karena dengan logika bahasa kita bisa membaca sebaliknya, bahwa apa yang tampak menyenangkan, bergandengan, berjalan beriringan, berpelukan belum tentu seindah yang terlihat.

Maaf, semoga Allah merahmati anda.

Kaliwaru, saat muak menyeruak karena derasnya pemberitaan seputar p******i.

Wife or Life???

December 14th, 2006 by hadi-pion

A baby is God’s opinion that wife should go on

Accept my wife, dear God.

Conception is the beginning of wife.

Despair comes to those who think about wife.

Enlightenment is beyond wife and death.

Every girl has the wife essence.

Happy is the man who leads a charmed wife.

If we didn’t have a social wife, we would never meet anyone.

I am a man of principle. Whatever I do, I do for wife.

I can think of nothing less pleasurable than a wife devoted to pleasure.

I have worked hard for my wife’s savings.

I’m so convinced that I’m prepared to bet my wife on it

Is there wife after death? That is the question

Is there wife in outer space?

It is dangerous to ignore the emotional wife.

It’s important to look at the bright side of wife.

Laughter is the best way of coping with wife.

Marriage is a matter of wife and death.

Marriage is just everyday wife.

Marriage was the culmination of my wife.

Money is the essential ingredient for the enjoyment of wife.

My girlfriend changed my wife forever.

Reincarnation: the punishment of wife after death.

Suicide is preferable to a wife of misery.

Sweetheart, my wife is nothing without you

The important thing is not to take wife seriously.

The secret to wife is that there is no secret.

Unhappy? That’s wife.

What is the purpose of wife if not reproduction?

Wife and death go hand in hand.

Wife is something to occupy you when you can’t get to sleep.

Wife is suffering, then we die.

Wife has taught me everything I know.

Wife is a sexually transmitted disease.

Wife never ends.

Wife was not meant to be easy.

Without death there can be no wife.

Where have you been?
What did you do with that money?
What did you mumble under your breath just then?
. . . These are the three big questions of wife.

What is wife without love?

From The Book of Wife(serious humor)

By David Quinn & Kevin Solway

Untuk calon istri, istri dan bekas istri….

Untuk nona,nyonya dan janda….marahlah atau tersenyumlah….

Lek Har…

October 15th, 2006 by hadi-pion

Images_4 Hartono namanya. Ada yang memanggilnya "Har", ada yang menyapa "mas Har", ada juga "my Har" (karena terinspirasi filmnya Nirina,Heart). Aku dan beberapa yang lain menyapanya dengan "Lek Har". Kulit sawo matang, tinggi 165cm. Tidak kurus, tidak gemuk. Ia dari Wonosari dan jualan angkringan di Kaliwaru (daerah eksotis di distrik condong catur tepat disebrang jalan markas POLDA DIY).

Lek Har adalah lelaki Wonosari dan hampir 10 tahun jualan angkringan.

Ia tidak tahu arti no pain no gain, tapi ia paham dari leluhurnya bahwa sopo gelem obah iso mamah. Ia menerjemahkanya dengan laku. Dan setiap sebelum ashar ia menyiapkan gerobagnya, memasang terpal, menata tiap menu pada tempatnya, melayani pembeli hingga larut malam. Ia adalah pekerja keras. Jangan samakan ia dengan polisi yang bermodal seragam dan sumpritan lalu memalak pengendara dipinggir jalan. Polisi yang cuma butuh negoisasi selama 10 menit untuk memperoleh 20 ribu. Lek har butuh seharian untuk memperoleh uang dengan jumlah nominal yang sama.

Lek Har adalah lelaki Wonosari dan hampir 10 tahun jualan angkringan.

Itu artinya hampir 10 tahun ia berinteraksi dengan beragam jenis manusia. Mendengar beragam obrolan. Dari soal ekonomi, politik, olahraga hingga agama. Ia mendengar suara mahasiswa yang resah karena harus melewati jalan yang tidak mulus untuk lulus. Ia mendengar mahasiswa yang bicara seputar game teranyar juga tentang film porno terbaru. Ia juga mendengar warga kaliwaru yang ngrasani dan menggunjing tetangganya. Tapi lek har tetap menjaga jarak. Ia tetap dipinggir, tanpa hasrat untuk nimbrung. Kadang, kalau ada obrolan yang mengungkap keburukan orang lain paling ia akan nyletuk “arep diomongke opo ngomong dewe”. Terkadang lek har juga bisa melucu. Pernah ada obrolan tentang cerutu cina, lalu ada yang bertanya “cerutu cino ki sing ko ngopo yo lek”? dengan enteng ia menjawab “ yo cerutu sing mbakone metu tekan njobo-njobo”. Kalau anda cerdas, pasti tahu apa maksudnya.

Lek har adalah orang biasa dengan pikiran sederhana.

Pernah suatu waktu aku bercerita tentang psikologi warna. Aku berusaha menyampaikan dengan bahasa yang sederhana bahwa tiap warna memiliki panjang gelombang tertentu. Kalau warna itu diakses mata, sel kerucut pada mata bagian belakang akan menerimanya dan mengirimkan sinyal saraf ke otak. Lalu otak akan mengeluarkan senyawa kimia tertentu yang mempengaruhi suasana hati dan kondisi fisik. Kebetulan warna oranye - warna terpal angkringan lek har- bisa mempengaruhi rasa lapar. Dan itu salah satu alasan orang betah berlama-lama duduk di angkringan sambil makan ini dan makan itu. Lalu apa respon lek har… “Moso”? “tenane”? "ngapusi"…

Lek har orang biasa dengan pikiran sederhana.

Ia tidak memikirkan mengapa sedikit sekali kaum hawa yang mau mampir ke angkringanya. Meski karenanya ia kehilangan pangsa pasar yang menjanjikan, juga kehilangan kesempatan untuk melirik wajah ayu yang sedang mengunyah brutu. Lek har tidak menyimpan kecurigaan pada sistem patriarki yang menyebabkan angkringan hanya menjadi area laki-laki. Ia tidak curiga pada sistem yang mengatur bahwa perempuan boleh begini dan tidak boleh begitu, serta membiarkan laki-laki untuk begini dan begitu. Sistem yang membuat perempuan melihat dirinya dengan cara pandang maskulin, hingga tanpa sadar mereka akan berpikir bahwa memang tidak pantas perempuan nongkrong di angkringan, tidak sopan. Hal ini menutup kemungkinan adanya pikiran bahwa saat tercantik seorang perempuan sebenarnya bukan ketika ia ada di depan cermin, bukan di saat ia mengenakan seragam abu-abu putih, bukan dihari pernikahanya, tapi justru saat ia duduk manis di angkringan sambil menggerogoti kepala ayam.

Lek har adalah “nabi” penyebar rahmat. Penyelamat bagi umat yang sekarat.

Ia memberi kesempatan banyak orang untuk memahami apa arti kebersamaan. Mahasiswa yang tiap hari disibukkan dengan rutinitas yang berbeda, dikumpulkan dalam tempat yang sama karena alasan yang sama, buka puasa. Lalu Angkringan jadi meja makan sekaligus ruang keluarga. Aku, teman satu kos, teman tetangga kos, duduk bersama berbuka walau dengan menu sangat sederhana. Lek har seperti sufi yang mengajari pelangganya untuk membedakan antara pleasure dan happiness. Tak ada pleasure di angkringan. Disana hanya ada nasi kecil dengan lauk ikan teri atau tempe kering. Tidak ada kemewahan di angkringan. Kecuali kalau kita menganggap gorengan tempe, tahu, tape, brutu (chicken ass), sate usus, kepala dan ceker ayam sebagai sesuatu yang wah. Lek har mengajak kita untuk menjauhi tubuh dan bergerak menuju ruh. Pleasure hanya bersifat jasmani, hayawaniyyah. Kita tidak beda dengan binatang kalau hanya mengejar pleasure. Sedangkan happines bersifat ruhani, insaniyah. Inilah yang ditawarkan lek har. Kebersamaan yang membuat kita bahagia. Bahagia dengan sesuatu yang sederhana.

Lek har adalah “nabi” penyebar rahmat. Penyelamat bagi umat yang sekarat.

“lek har mbayare ngko sik yo”….”sesuk yo mas har”… “mlebu rekening yo lek”… Itu hanya sebagain ucapan yang keluar dari pelangganya yang sedang sekarat, sedang melarat. Aku, teman kos dan beberapa pelanggan yang kehabisan uang saku akan menjadikan lek har sebagai tempat berlabuh. Lek har tidak menampik, ia percaya, ia tidak mencatat, tidak menghitung dengan ketat. Paling - paling ia akan berkata “yooo”…"sante wae"…"sakarepmu"…“itungen dewe”. Ini yang membuat satu temanku - dengan kesadaran - membayar lebih saat “jatuh tempo”.

Aku pernah mendengar, bahwa nabi yang berakhlak mulia bersabda " sebaik baik manusia adalah yang bisa bermanfaat untuk sesamanya" dan  " sebaik baik manusia adalah yang bisa memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya".

Matur nuwun yo lek……..

Terima kasih, meski terdengar lirih, meski tak terdengar, meski tak terbaca, akan tetap memiliki makna.

Kaliwaru, di temani teh hangat buatan lek har.