Dosa Ekonomi
June 1st, 2008 by hadi-pionSaya mulai dari
pengakuan. Confession of an economic
hitman adalah judul buku yang ditulis oeh John Perkins. Ia adalah Salah
satu pion kecil dalam korporasi besar yang bersama pemerintah AS, bank, lembaga
multinasional, perusahaan tambang dan konstruksi berkelindan membentuk corporatocracy.
Corporatocracy digerakkan oleh konsep
yang diterima sebagai doktrin bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi
umat manusia. Makin besar pertumbuhan makin luas manfaatnya. Konsekuensinya,
mereka yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi sepantasnya diagungkan dan
ketamakan layak diberi tepuk tangan.
Corporatocracy berusaha mendorong para
pemimpin dunia agar menjadi bagian dari jaringan luas yang mengutamakan
kepentingan komersial Amerika Serikat. Pada akhirnya para pemimpin itu akan terjerat dalam belitan
utang yang akan memastikan loyalitas mereka. Corporatocracy dengan senang
hati memberikan pinjaman hutang dalam jumlah besar ke suatu negara untuk
pembangunan infrastruktur seperti; pembangkit tenaga listrik, bendungan, jalan,
bandar udara dan kawasan industri. Perkins dan para EHM lainya, melalui
ekonometri, dengan statistik yang dimanipulasi berusaha membuat proyeksi
pertumbuhan ekonomi (pasca pembangunan infrastruktur) selama beberapa tahun
kedepan. Para EHM akan membujuk segelintir “orang-orang brengsek” disuatu negara
untuk mendukung konsep ekonomi mereka. Pemberian hutang akan disesuaikan dengan
anggaran pembangunan infrastruktur yang nilainya tentu sudah digembungkan
hingga mencapai titik yang tidak mungkin dikembalikan oleh negara penerima
bantuan. Apabila suatu negara mengalami gagal bayar, seperti mafia, corporatocracy akan menuntut banyak hal
mencakup; hak pilih di PBB, instalasi pangkalan militer dan terutama akses kepada sumber daya alam.
Bila para EHM gagal , maka diatasnya ada sekawanan serigala (istilah dari Perkins)
yang akan menggulingkan pemimpin suatu negara yang tidak bisa diajak “kerjasama”,
seperti yang terjadi di Panama dan Ekuador. Bila serigala gagal, akan ada
pengiriman tentara dalam jumlah besar seperti yang terjadi di Iraq.
Perkins pun
berkunjung ke Indonesia. Segelintir anak bangsa memasukkan Indonesia ke dalam jerat corporatocracy. Korupsi dan lembeknya
pemerintahan, seperti yang disampaikan Amien Rais , menyebabkan pihak asing
dengan mudah memegang tengkuk Indonesia.
Seperti kucing yang dipegang tengkuknya, taring dan cakarnya tidak memiliki
arti. Orde baru yang disokong ekonom mafia
Berkeley
berdosa karena melakukan kejahatan (sin
of crime of commission) dengan menjual negara kepada pihak asing. Dari
sanalah kontrak penambangan yang tidak masuk akal dimulai. Pemerintahan SBY
berdosa karena membiarkan kejahatan ekonomi tetap terjadi (sin of crime of ommision) dan
sekaligus melakukan kejahatan baru dengan menyetujui kontrak penambangan yang di
luar nalar. Tidak ada keberanian melakukan renegoisasi untuk mendapatkan
pembagian hasil yang lebih adil. Tidak ada ketegasan untuk menuntut
transparansi berapa besaran jumlah produksi dan cost recovery yang dibutuhkan. Dan dosa bertambah karena dengan alasan
tidak mampu, pemerintah menjual murah blok Cepu dan Natuna pada Exxon. Yang lebih gila, untuk ekploitasi
gas di blok D-Alpha Natuna negara hanya mendapat pemasukan dari pajak. Dengan
utang mencapai $148 miliar, dengan sumber daya alam yang dikuasai pihak asing,
dengan lembeknya pemerintahan, kedaulatan dan kemandirian ekonomi macam apa
yang bisa diharapkan?
Kebijakan untuk
menaikkan BBM adalah bukti bahwa Indonesia tidak memiliki kedaulatan
ekonomi. Menaikkan BBM dan pemberian BLT adalah semacam post hypnotic suggestion yang diberikan oleh Bank Dunia, dan kita
tak berdaya menghadapinya. Seperti orang yang dihipnotis lalu diperintah untuk
membuka baju, ia menjadikan cuaca panas sebagai alasan pembenaran untuk menyangkal bahwa yang dilakukanya adalah
karena sebuah perintah. Alasan untuk menyelamatkan APBN, bahwa subsidi lebih
banyak dinikmati oleh kalangan menengah atas dan karena itu distribusinya harus dibuat lebih
adil lewat BLT, adalah bentuk rasionalisasi untuk menutupi kenyataan bahwa
kita terikat financial agreement
dengan lembaga mulltinasional. Adalah romantic
nonsenses karena pemerintah juga
memberikan puluhan trilyun untuk menutupi hutang orang-orang kaya. Adalah alasan
yang tidak akan cukup untuk menghentikan demonstrasi mahasiswa. Adalah alasan
yang tidak memadai untuk membungkam orang-orang macam Kwik Kian Gie, Rizal Ramli,
Amien Rais, Ichsanudin Noorsy untuk mengkritik kebijakan ekonomi Sri Mulyani dan anak ideologis mafia Berkeley lainya.
Kebijakan
ekonomi yang lebih didasari intervensi asing ketimbang pemikiran yang matang
dan perencanaan yang baik justru membawa dampak yang lebih buruk bagi
masyarakat. Naiknya BBM otomatis diikuti naiknya barang kebutuhan pokok.
Masyarakat terhimpit dalam kehidupan ekonomi yang kian sulit. Warga miskin baru
bertambah dengan skala yang tidak kecil. BLT ( bantuan langsung telas) hanya
menjadi belatung yang menggerogoti tidak hanya harga diri orang miskin tapi
juga ekonomi secara keseluruhan. BLT adalah suap politik untuk menarik simpati
dari mereka yang tak berdaya.
Indonesia hari ini, membutuhkan pemimpin yang tegas seperti Mahathir Muhammad, Hugo Chaves
atau Morales. Pemimpin yang berani berkata “tidak” terhadap segala intervensi
asing. Pemimpin yang tidak tinggal diam
terhadap segala bentuk kezaliman. Pemimpin yang baik.
